Selasa, 20 Desember 2011

Cerpen \(˘⌣˘)/


Badai malam ini seperti tangisan dewi cinta yang sedang lara patah hati ditinggal sang kekasih. Awan hitam memakan bulan yang tengah berseri-seri dilangit. Jalan-jalan diterkam kesunyian. Sepi tanpa pekikan-pekikan langkah kaki manusia yang berlalu lalang. Hawa dingin menusuk tulang. Rumah menjadi perlindungan diri dari kejamnya dunia luar. bahkan setiap hewan memilih mengurung diri ditempat seadanya walau lapar meradang.
 Namun lihatlah sebuah mobil yang parkir ditepi jalan, tiba-tiba terlempar keras dan mobil itu masuk kedalam rumah. Seorang gadis kecil yang berada di dalamnya , hanya diam seribu bahasa memangku tangan. Badai hari ini seperti memotong urat-urat syaraf. Oleh karena itu hanya untuk kepentingan - kepentingan tertentu saja jika ada warga yang memberanikan diri berjalan keluar rumah. dan itulah Aku. separuh wajahku tertutup syal dari batas hidung hingga leher. Ku kenakan pula kacamata hitam dan mantel yang membungkus tubuhku. Aku tak peduli walau bada besar menghalangi langkah kakiku.
 "Dia suka Coklat" ucap Andrian
"Dia bilang ke gue engga" Aku masih meragukan
"di tas sekolahnya pasti ada coklat, Tiap hari pasti ada, lagian gue juga pernah ngasih dia coklat" ucapnya kembali
"lo juga suka sama Putri ?" Tanyaku terkejut
"ya enggaklaah gue kan udah punya Adel, itu coklat buat gue nyogok dia supaya PR matematika gue dikerjain sama dia, hehe" Paparnya
"kenapa bukan Adel?" tanyaku
"Nanti begonya gue ketawan sama cewek gue sendiri, malu dong" jawabnya
"Jadi bener Putri suka coklat?"tanyaku bertubi-tubi
"Masa sih gue bohong sama sahabat ko" ujarnya
"Terus kenapa dia bilang ke gue kalo dia gak suka coklat?"tanyaku kembali
"Putri mau kalo lo ngejar dia" sahut Andrian
"oke, pokoknya Putri harus jadi milik gue" ujarku penuh rasa percaya diri.
 Obsesiku pada Putri rasanya sudah tak terbendungkan. Impianku tuk memilikinya terbayang siang malam. Khayalanku akan cantik parasnya sepanjang lamunan. Putri Alvita. Itulah nama lengkapnya.
 Putri memang suka coklat. Dari tempatku mengintip, aku bisa melihat jelas Putri memakan coklat dengan lahap, bersama kedua sobatnya Sannia dan Nafi. Mengapa Putri berbohong padaku? tidakkah dia tau kebohongan itu sia-sia saja? Aku dan semua teman-temannya pun tau bahwa dia suka coklat. Mungkin itu pula sebabnya wajahnya selalu manis seperti coklat.
 "Hay , ngintip siapa?"
Aku terkejut, jantungku terhentak. Yaampun kukira siapa. Fitri cengengesan menatapku. dia membetulkan letak kacamata minusnya
"ngintipin Putri yaa?" Fitri sekilas melirik Putri
"sok tau lu ah"Ucapku beralasan
Fitri tersenyum, dan Aku pun melangkah pergi namun Fitri tetap mengiringiku.
"Ngebet banget sama Putri ya ?" tanya Fitri
"Enggak ... " jawabku ragu
"lo gak termasuk kriterianya dia Ko," sahutnya melirikku
"Mending kita ngomongin Piala dunia" ucapku
"gue gak suka, lebih baik ngomongin gue" ujarnya dengan wajah berseri-seri
"yaelah, ngomongin elo efeknya bikin tujuh hari tujuh malam gak bisa tidur." sahutku segan
"iih sembarangan ! emang gue apaan"
Aku tertawa, Fitri berhenti melanngkah. Aku pun berhenti. Rona ceria wajah Fitri pupus seketika. menyesal Aku menyesal menghampirinya. Dari jarak sedekat ini, terlihat wajahnya tidak senang. Tiba-tiba saja Aku merasakan sesuatu yang berbeda pada diri Fitri. Entahlah Fitri adalah murid baru disekolahku. Sejak kehadirannya, Aku memang memandangnya sebelah mata. Padahal Fitri selalu berusaha berbagai cara untuk berkawan denganku. Tapi sungguh, ada sesuatu yang baru ku sadari saat ini. dibalik kacamata minusnya. kedua bola mata Fitri sangat tajam seperti elang, dan ketika tersinar cahaya mentari timbullah pelangi dari kedua matanya. menakjubkan dan sangat Impossible.
"Hey .. jangan ngeliatin gue kaya gitu dong" ucap Fitri tersipu malu
Aku terkejut dan tersenyum dengan gugup , matanya begitu indah seperti pelangi dilangit cerah setelah hujan dan tanpa membicarakannya lagi Aku pun beranjak pergi begitu saja dari hadapannya.
 Putri terbelalak kaget. kemungkinan ini sudah ku pertimbangkan sembilan puluh sembilan persen terjadi. Tentu saja Aku yang berbapak perampok sadis dan Ibu sang Penari erotis menginginkan Putri yang populer dan berasal dari keluarga terhormat menjadi pacarku. sejuta hinaan pun terlontar dari bibir manisnya. Aneh. kata-katanya yangtajam mengiris itu sedikit pun tidak melukai perasaanku. sebaliknya, hasratku padanya kian menggebu.
"Elo serius mau jadi pacar gue ?" tanya Putri berbisik ketelingaku
"Ya, gue serius .. elo tuh gadis impian gue" jawabku antusias
"Dengar ya Riko, gak ada impian tanpa melewati pengorbanan" ucapnya
"gue akan ngelakuin apa saja asal lo jadi pacar gue" sahutku
" masa sih?" tanyanya mengejek
"Gue akan bawain coklat satu truk" kataku tanpa berpikir panjang
"gue sak suka coklat ko" ucapnya menggertak
"Jangan bohongin gue Put" sahutku dengan muka memelas
"terserah elo deh !" ucapnya kesal dan sedikit kasihan padaku
"yasudah lupakan soal coklat" kata ku
"emang gue gak suka coklat kok" sahutnya keras kepala
"Tapi lo bener mau jadi pacar gue kan ?"tanyaku kembali
"lo mau gue jadi milik lo ?" ucapnya berbalik mananya
Putri lalu mendekat kewajahku dan membisikan sesuatu ditelingaku..
           Dulu gedung bertingkat lima ini adalah Mall. Kebakaran dahsyat kemudian meluluh lantahkan hampir seluruh struktur bangunan. Banyak orang yang mati terbakar api akibat terjebak di dalam. berbekas kini hanyalah kerangka-kerangka belaka. Menghitam, peristiwanya tiga tahun yang lalu. hingga kini pemerintah kota belum melakukan renovasi. dibiarkan terbengkalai begitu saja. Terkadang tiap tengah malam, sering terdengar jeritan arwah histeris.karena tepat tengah malam gedung itu terbakar.
          Hampir setengah jam aku menunggu gedung bekas terbakar ini. badai belum reda. Tiba-tiba perasaanku mulai tak nyaman. Seperti ada sosok-sosok lain mengawasiku dari balik kegelapan. Jantungku berdebar kencang. Pikiran buruk mengancam kepalaku. Dapat ku rasakan sosok bergerak ke arahku. Dia pasti salah satu korban kebakaran gedung Mall ini. Dan..
"Riko..."
Aku terkesima, Aku lekas menoleh. Fitri! ku tatap dia lebih teliti. Memang benar dia Fitri. Aku menghela nafas lega. Fitri mendekatiku.
"Kenapa ? lo takukt ya ? salah lo sendiri. Udah tau, tempat ini angker. Masih aja mau ketemuan disini. Ada juga gue yang takut kali.  Gue soalnya yang nyampe duluan. Ngaret sih lo." Tutur Fitri
"Sory, lo tau kan situasinya lagi badai kaya gini" sahutku
"Ko, kalo bukan lo yang minta gue gak bakal dateng, Terus ada apa nih sebenernya sampe lo bilang gak bisa dibicarain di telfon ?" tanya Fitri
          Aku mengambil senter dari saku celana. Setelah ku nyalakan, ku sorotkan cahaya tepat dimata Fitri. Memastikan, Yap kedua bola mata Fitri memang bercahaya Pelangi. Kemudian ku matikan senter. Fitri tertegun.
"kenapa ko ?"
"Maafin gue sebelumnya fit,"
"Maaf untuk apa ?"
"Karna gue punya satu permintaan yang gila, dan itu harus gue dapetin"
"Katakan saja, ko"
Aku terdiam sejenak, jingga menatapku lekat-lekat.
"Fitri.. gue minta dua mata lo"
"Dua mata gue ? maksud lo ?"
Fitri terkejut. Reaksi yang sudah sepatutnya. Tapi memang ini lah yang Aku cari. Mata Pelangi, Aku butuh sepasang mata pelangi demi mewujudkan syarat mutlak yang diberikan Putri, agar AKu menjadi pacarnya. Tanpa mata milik Fitri kesempatanku meraih gadis impianku akan hilang bersama penyesalan.
"Fitri, gue serius"
"Iya, tapi kenapa ?" Fitri mendesak. Dia tampak bingung dan sedih.
"Gue jatuh cinta sama Putri, Gue mau dia jadi pacar gue. untuk itu dia menuntut menginginkan sepasang bola mata yang indah. dan itu milik lo"kataku menjelaskan
Fitri semakin sedih mendengar pengakuanku. Lama dia merenung.
"Lo bener-bener cinta sama Putri?" tanya Fitri
"Iya" ucapku singkat
"Baiklah" Fitri tersenyum antara ikhlas dan berat hati
           Segera ku keluarkan sebuah cutter dari dalam mantelku. Cutter berukuran besar dan kuat. Malam itu dapat ku rasakan segerombolan arwah gentayangan bergerumuh keluar dari seluruh titik sudut kegelapan. Fitri pasrah membisu.
           Aku tertawa terbahak-bahak, gembira macam orang gila sepotong paha ayam berbalutkan jamur menjijikan ditempat sampah. Kupandangi sepasang bola mata Fitri didalam kantong plastik kecil. Drah bercampuran lendir masih berbalur disekitar bola mata Fitri beserta sisa-sisa daging yang masih menempel. tiba-tiba saja kamar tidurku yang berantakan dan pengap kini terasa indah dan mewah. Kasur bulukan kini berubah menjadi kasur air. cat-cat tembok yang sudah kusam dan terkelupas kini berlapisan walppaper dengan bentuk bunga-bunga mawar merekah bernilai Artistik. Lantai pun berubah menjadi keramik yang bersih mengkilap. segalanya menjadi begitu indah, dan wangi semerbak. ku letakan mata indah Fitri dimeja. kutatap wajahku dalam cermin bersinar terang. Aku melihat harapan cinta berseri-seri pada sosokku yang semu dicermin sana. Akhirnya Putri akan menjadi pasanganku. Dan ponselku tiba-tiba berbunyi
"hallo, kenapa ndri ?"Aku menjawab enggan panggilan diponsel
"Fitri meninggal" suara Andrian diujung sana, terdengar risau.
"apa ?" ucapku datar
           Aku seketika terdiam. tak mungkin. Fitri masih hidup walau telah ku ambil kedua matanya. Fitri masih sempat tersenyum seraya ikhlas menyerahkan kedua matanya untukku.
"Ka-kapan?"tanyaku
"Sore sekitar jam tiga. Pulang dari bimbel, mobilnya tabrakan dengan truk. Fitri dan supirnya tewas ditempat" paparnya
          Aku terkejut lagi. jam tiga sore? tidak mungkin. itu berarti sekitar tujuh jam lalu. sedangkan aku baru saja bertemu Fitri satu jam lalu. Fitri nampak sehat, bugar dan ceria. Lantas siapakah yang ku temui digedung bekas terbakar itu ?
"Lo yakin ? soalnya tadi gue abis ketemuan sama Fitri."
"Jangan ngarang deh! Jenazahnya sekarang ada dirumahnya. kesini aja kalo gak percaya. Gue sama Adel lagi disini nih, lagi ngelayat"
         Kumatikan ponsel. Pikiranku lambat laun terhisap oleh lubang kosong. Separuh diriku masih menolak berita duka tersebut. Kutatap kedua bola mata Fitri yang masih berada diatas meja. Sepasang mata itu menatapku dengan dingin. Aku bergidik. Hawa hangat menyusuri permukaan tubuhku yang mulai lemas. Rasa ketakutan menikam hatiku yang menggigil. Tuhan, apakah yang telah terjadi ? tanganku segara menyambar kedua mata milik Fitri dan membuangnya keluar lewat jendela. Ku tutup dan ku kunci jendela. Saar berpaling, Aku terbelalak. Kedua mata Fitri masih berada diatas meja. lalu apa yang kubuang tadi ?
        Putri menyambut kedatanganku dengan senyumnya yang cantik dan angkuh.
"Mana.. dibawa gak syarat yang gue ajukan ?"
"nih, buatlo apappun gue lakuin" Ucapku menjulurkan kantong plastik
Aku tersenyum hampa
"Gue gak percaya. lo tuh pecundang. lo mau bawa bukti sampai seratus pasang mata indah kaya gini gue gak akan pernah mau jadi pacar lo ! amit-amit!"
Putri tidak mengetahui isi kepalaku. Putri bahkan tidak tahu kesungguhan yang bersarang di hatiku ini. Ketika Putri berpaling hendak pergi, ku keluarkan Cutter yang ku gunakan untuk mencongkel mata Fitri dan secepat kilat ku potong leher Putri seperti memotong leher hewan. Jika aku tidak bisa memiliki Putri, maka tidak boleh ada yang memilikinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar