Ayah. ƪ(♥ε♥)ʃ
Terbayangkah olehmu seperti apa sosoknya?
Ayah ku adalah pria dewasa, berbadan tinggi, dengan
perut besar, dan kumis tipis diatas bibir ♉(˘♢˘)♉
Sikapnya begitu tegas dan keras. Terkadang aku membenci
sikapnya yang terlalu memaksakan kehendak (۳ ˚Д˚)۳ Menyuruhku untuk masuk ke
sekolah bergengsi dikota padahal belum tentu aku menyukainya. Dia terus
mendesakku sehingga aku sungkan untuk menolak (╥_╥) Aku benci itu.
Semua yang harus kulakukan demi kehendaknya terpenuhi. Aku merasa terpenjara
oleh semua aturan yang dibuat oleh ayahku. Tidak hanya sekedar itu hal-hal
kecil seperti memaksaku untuk makan pagi, sudah jelas-jelas perutku tidak lapar
dan menginginkan nilai sempurna diraporku. Itu amat sangat sulit \(
#`⌂´)/┌┛ Tidak kah Ayah mengetahui seberapa besar pengorbankanku untuk mendapatkan
nilai berdampingan yaitu satu dan nol? Butuh kerja ekstra untuk mendapatkan
nilai sepuluh pada ulangan. Jangankan ulangan, nilai tugasku saja belum tentu
setiap hari mendapatkan nilai sempurna itu. Aku benci Ayah disaat seperti itu. ┌("˘o˘)┐
Ini seperti penyiksaan. Ayah, bukan aku yang membencimu, tapi Ayah yang
memaksaku untuk membencimu (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)
Tapi saat ku
lihat dari sisinya, Aku melihat kehangatan (˘ε˘ƪ)
Disaat Ayah memaksaku untuk makan, karna Ayah khawatir Aku sakit. disaat Ayah
memaksaku untuk memasuki sekolah yang diinginkannya hanya karna ingin aku mendapatkan
yang terbaik. Di saat Ayah memaksaku terus belajar dan mendapatkan nilai bagus
hanya karna memikirkan masa depanku ƪ(‾ε‾“)ʃ
Saat pagi buta Ayah
rela menghantam kabut untuk mengantarku bersekolah, Ayah rela bercucuran
keringat untuk mencari nafkah. Ayah....... Disaat seperti itu Aku ingin
memelukmu (っ˘з˘)っ Bisakah Aku melakukannya. Sebentar saja, hanya ingin sebagai
ucapan terimakasih karna Ayah rela bermandikan keringat untukku.
Disaat seperti
itulah aku benar-benar dapat merasakan bahwa Aku menyayangimu. Rasa sayang ini
terlalu besar untuk membunuh rasa kesal ku padamu. Sulit ku bayangkan disaat
nanti hembusan nafas mu telah terhenti. Masihkah sanggup bagiku untuk terus
menjalani hidup? Dapatkah Aku tegar disaat tiang keluarga ini telah tiada?
Tak kan ada lagi
yang memarahiku disaat aku bersikap nakal.
Tak akan ada lagi
yang memukulku disaat aku membangkang.
Tak kan ada lagi
yang rela mencari nafkah agar Aku dapat bersekolah.
Tak akan ada lagi Ayah sepertimu.
Ku harap kau
terus bersamaku Ayah. Meskipun terkadang Aku tidak mendengar perkataanmu dan
menganggapmu otoriter tetapi Aku benar-benar menyayangimu dan takut kehilangan
seorang Ayah sepertimu (˘⌣˘)ε˘`)