Selasa, 14 Agustus 2012

Ayah ♥ ƪ(˘⌣˘)ʃ ♥


Ayah.  ƪ(ε)ʃ
Terbayangkah olehmu seperti apa sosoknya?
Ayah ku adalah pria dewasa, berbadan tinggi, dengan perut besar, dan kumis tipis diatas bibir ♉(˘♢˘)♉
Sikapnya begitu tegas dan keras. Terkadang aku membenci sikapnya yang terlalu memaksakan kehendak  (۳ ˚Д˚)۳ Menyuruhku untuk masuk ke sekolah bergengsi dikota padahal belum tentu aku menyukainya. Dia terus mendesakku sehingga aku sungkan untuk menolak  (_) Aku benci itu. Semua yang harus kulakukan demi kehendaknya terpenuhi. Aku merasa terpenjara oleh semua aturan yang dibuat oleh ayahku. Tidak hanya sekedar itu hal-hal kecil seperti memaksaku untuk makan pagi, sudah jelas-jelas perutku tidak lapar dan menginginkan nilai sempurna diraporku. Itu amat sangat sulit  \( #`⌂´)/┌┛ Tidak kah Ayah mengetahui seberapa besar pengorbankanku untuk mendapatkan nilai berdampingan yaitu satu dan nol? Butuh kerja ekstra untuk mendapatkan nilai sepuluh pada ulangan. Jangankan ulangan, nilai tugasku saja belum tentu setiap hari mendapatkan nilai sempurna itu. Aku benci Ayah disaat seperti itu. ┌("˘o˘)┐ Ini seperti penyiksaan. Ayah, bukan aku yang membencimu, tapi Ayah yang memaksaku untuk membencimu  (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)
 Tapi saat ku lihat dari sisinya, Aku melihat kehangatan (˘ε˘ƪ) Disaat Ayah memaksaku untuk makan, karna Ayah khawatir Aku sakit. disaat Ayah memaksaku untuk memasuki sekolah yang diinginkannya hanya karna ingin aku mendapatkan yang terbaik. Di saat Ayah memaksaku terus belajar dan mendapatkan nilai bagus hanya karna memikirkan masa depanku   ƪ(‾ε‾“)ʃ
 Saat pagi buta Ayah rela menghantam kabut untuk mengantarku bersekolah, Ayah rela bercucuran keringat untuk mencari nafkah. Ayah....... Disaat seperti itu Aku ingin memelukmu (っ˘з˘)っ Bisakah Aku melakukannya. Sebentar saja, hanya ingin sebagai ucapan terimakasih karna Ayah rela bermandikan keringat untukku.
 Disaat seperti itulah aku benar-benar dapat merasakan bahwa Aku menyayangimu. Rasa sayang ini terlalu besar untuk membunuh rasa kesal ku padamu. Sulit ku bayangkan disaat nanti hembusan nafas mu telah terhenti. Masihkah sanggup bagiku untuk terus menjalani hidup? Dapatkah Aku tegar disaat tiang keluarga ini telah tiada?
 Tak kan ada lagi yang memarahiku disaat aku bersikap nakal.
 Tak akan ada lagi yang memukulku disaat aku membangkang.
 Tak kan ada lagi yang rela mencari nafkah agar Aku dapat bersekolah.
Tak akan ada lagi Ayah sepertimu.
 Ku harap kau terus bersamaku Ayah. Meskipun terkadang Aku tidak mendengar perkataanmu dan menganggapmu otoriter tetapi Aku benar-benar menyayangimu dan takut kehilangan seorang Ayah sepertimu   (˘˘)ε˘`)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar